Pada suatu ketika, hiduplah seseorang, sebut saja Mr. Sangar. Mr. Sangar adalah seorang direktur yang suka menumpuk pekerjaan dan suka marah-marah kepada bawahannya. Suatu hari ia mendatangi sekretarisnya, Ms. Jutek, sambil berteriak-teriak, “Berkali-kali saya telepon kantor, koq tidak pernah diangkat”.
“Maaf, saat itu saya sedang di ruang sebelah, pak
” jawab Ms. Jutek.
“Maaf, maaf terus. Ambil kertas-kertas ini, berikan pada kepala bagian dokumentasi. Setelah itu, segera kembali kemari.”
Ms. Jutek bergegas ke bagian dokumentasi dengan rasa dongkol. Setibanya, ia melemparkan kertas-kertas itu ke atas meja Mr. Salah, Kepala Bagian Dokumentasi.
“Jangan terlambat,” kata Ms. Jutek.
Mr. Salah merasa tak nyaman dengan kelakuan sekretaris itu. Ia berkata, “Baik, tapi tolong letakkan yang rapi
.”
“Rapi atau tidak, yang penting segera selesaikan,” tukas Ms. Jutek.
Akhirnya, mereka berdua bersitegang. Suara terdengar menggaduh. Tak lama kemudian Ms. Jutek kembali ke ruangannya. Beberapa jam setelah itu, Mr. Malang, salah seorang staf dokumentasi datang menghadap Mr. Salah. Ia berkata, “Pak, saya mohon izin untuk menjemput anak di sekolah. Setelah itu, saya akan segera kembali lagi ke sini.”
“Tiap hari kau selalu keluar,” kata Mr. Salah.
“Saya kan sudah begini sejak sepuluh tahun yang lalu. Tetapi, baru kali ini Bapak tidak mengizinkan saya.”
“Engkau ingin saya marah ??, lekas kembali ke ruanganmu.” bentak Mr. Salah
Mr. Malang lalu kembali ke ruangannya dengan hati dibalut luka ditambah dengan kekhawatiran terhadap anaknya. Di akhir jam kerja, Mr. Malang pulang ke rumah dengan membawa amarahnya. Di rumah ia disambut anaknya, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya
). Bunga berlari ke arah ayahnya dengan membawa boneka sambil berkata, ”
Papa, aku diberi hadiah mainan ini oleh Bu Guru, karena aku . . .”
Belum sempat Bunga menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Mr. Malang berteriak memotong, “Bawa saja mainan itu kepada ibumu !!!”
Bunga pun berlari sambil menangis menemui sang ibu. Saat itu, kucing peliharaan Bunga mendekat, mengelus-eluskan tubuhnya di kakinya seperti biasa. Namun, Bunga malah menendang kucing malang tersebut hingga membentur tembok rumah.
Pesan hari ini : Jangan sampai perilaku kita, membuat sial orang/makhluk lain nun jauh di sana.

diambil dari : “Nikmati Hidupmu”, Dr. Muhammad Al Arifi
gambar : http://b0ugiies.deviantart.com/art/Poor-cat-131567194
2 Comments
Jadi siapa nama kucingnya? si Velang (Bukan si Belang).. Singkatan dari Very Malang
[Reply]
Ya bolehlah,, sebut saja si Velang…..
[Reply]